01 02 03 04 05

ARTIKEL


PENDAHULUAN
Jalak bali (Leucopsar rothscildi) sebagai satwa langka yang merupakan salah satu makhluk tersisa penghuni bumi, saat ini secara hidupan liar populasinya berada pada kondisi menghawatirkan, keberadaannya cenderung mengarah pada situasi terancam bahaya punah. Data terakhir pada Desember 2006 populasi dialam liar tercatat hanya tersisa sebanyak 6 ekor. Padahal mahkluk yang satu ini memperoleh perhatian cukup serius dari pemerintah Republik Indonesia, yaitu dengan ditetapkannya makhluk tersebut sebagai satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Perlindungan hukum untuk menyelamatkan satwa tersebut ditetapkan berdasarkan surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970. dalam konvensi perdagangan internasional bagi jasad liar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora) Jalak Bali terdaftar pada Apendix I, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan, Bertitik dari permasalahan tersebut di atas  langkah yang ditempuh didalam merespon pentingnya mempertahankan keberadaan hidupan liar Jalak Bali dari ancaman bahaya punah, maka pihak Taman Nasional Bali Barat memandang perlu untuk menyikapi melalui kegiatan nyata konstruktif agar populasi yang sedang terpuruk tersebut dapat pulih kembali. Aksi alternatif terpilih yang ditempuh adalah dengan cara meliarkan kembali secara bertahap sub populasi buatan ke habitatnya. Dengan demikian pengadaan individu sebagai cikal bakal lepas-liar menjadi sangat prioritas dan merupakan bagian terpenting tidak terpisahkan dari keseluruhan konsep program pemulihan populasi liar, yaitu melalui penyelenggaraan kegiatan penangkaran yang dikelola secara intensif dan profesional.

KONDISI UMUM PENANGKARAN
A. Penangkaran

Disamping usaha perlindungan dan pengawetan terhadap jenis-jenis satwa liar yang langka dengan berbagai macam undang-undang dan peraturan pemerintah, serta melalui konservasi in-situ, maka diperlukan pula bentuk perhatian lain seperti penangkaran.

Secara bebas penangkaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mengembangbiakan jenis satwa liar dan tumbuhan alam, tujuan untuk memperbanyak populasinya dengan mempertahankan kemurnian jenisnya, sehingga kelestarian dan keberadaannya dapat dipertahankan. Bahwa prisip kebijaksanaan penangkaran jenis satwa liar adalah:

  1. Mengupayakan jenis-jenis langka menjadi tidak langka, dan pemanfaatannya berazaskan kelestarian.
  2. Upaya pelestarian jenis perlu dilakukan di dalam kawasan konservasi maupun di luar habitat alaminya. Diluar habitat alami berbentuk penangkaran, baik di Kebun Binatang maupun lokasi lainnya yang ditangani secara intensif.
  • Peliaran kembali satwa hasil penangkaran ke habitat alaminya ditunjukan untuk meningkatkan populasi sesuai dengan daya dukung habitatnya tanpa mengakibatkan adanya polusi genetik ataupun sifat-sifat yang menyimpang dari aslinya.
  • B. Lokasi
    Penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan di lokasi Tegala Bunder, Taman Nasional Bali Barat, terletak antara 114026’00’’ sampai 114056’30’’ Bujur Timur dan 8005’20’’ sampai 8017’20’’ Lintang Selatan .

    Berdasarkan pembagian wilayah administratif lokasi tersebut di wilayah desa Sumber Kelampok, Kecamatan Gerokgak, Pemerintah Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali.

    C. Awal kegiatan
    Awal pelaksanaan kegiatan mulai sejak bulan April tahun 1995, yaitu setelah berakhirnya Proyek Penyelamatan Jalak Bali oleh ICBP yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan atau Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan atau PHKA saat ini. Dan kegiatan penangkaran terus berkelanjutan hingga setiap tahun dapat memenuhi kebutuhan cikal bakal peliaran dalam rangka pemulihan populasi liar Jalak Bali, mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat peminat penangkar, dan peneliti.

    D. Asal usul induk
    Asal-usul induk yang diberdayakan dalam kegiatan penangkaran ini, antara lain individu yang berasal dari peninggalan ICBP (3 ekor), dan selanjutnya diperoleh secara kerjasama pelestarian dengan Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Safari Indonesia (TSI), Kebun Binatang Surabaya (KBS), BKSDA DKI, hasil pertukaran individu dengan individu dengan penangkar di Bandung, Madiun, dan Denpasar, serta berasal, serta berasal dari hasil sitaan.

    E. Sangkar biak
    Sarana ini secara khusus diperuntukan untuk kepentingan pembiakan, terbuat dari bahan tembok/beton dan teralis

    F. Sarang biak
    Sarang biak disesuaikan dengan kebiasaan Jalak Bali menggunakan sarang biak di alam. Pada hidupan liar Jalak Bali menggunakan media biaknya pada batang pohon yang berlubang, jenis pohon yang umum digunakan antara lain pohon Talok (Grewia koordersiana), Walikukun (Shoutenia ovata), Laban (Vitex pubescens), dan Pilang (Acacia leucoplopea).

    Dipenangkaran media tersebut terbuat dari bahan kayu berbentuk silindris, dengan ukuran diameter 15 cm, panjang/tinggi 50 cm, dibuat sedemikian rupa dengan bagian dalam gerowong. Untuk keluar masuk burung di salah satu bagian depan dibuat lubang berbentuk lingkaran dengan diameter 7 cm – 8 cm. media biak ini ditempatkan dengan posisi tegak, ditempelkan pada dinding atau penyangga tertentu yang dipersiapkan.

    G. Sangkar sapihan
    Sarana ini diperuntukan guna menampung anakan usia sapihan, yaitu individu anakan mulai usia mandiri (35 hari). Sangkar ini berukuran lebih lebar dari sangkar biak sesuai dengan peruntukannya untuk dapat menampung setidaknya 10 ekor. Sangkar yang ada dan digunakan untuk kepentingan ini yaitu 1 unit berukuran 4 m x 4 m x 2.5 m, 1 unit ukuran 3 m x 3 m x 2.5 m dan 1 unit ukuran 4 m x 3 m x 2.5 m.

    H. Makanan
    Di alam bebas, pakan alam yang dikonsumsi oleh Jalak Bali dalam meniti hidupan liarnya, antara lain untuk jenis pakan berkategori hewani terdiri dari : Semut, telor semut, belalang, jangkrik, ulat, kupu-kupu, rayap, dan serangga tanah. Untuk pakan berkategori nabati terdiri dari buah : kerasi (lamntana camara), bekul (Zyzyphus mauritiana), intaran (Azadirachta indica), daging buah kepuh (Sterculuia foetida), talok (Grewia koordersiana), trenggulun, buni (Antidesma bunius), kalak, ciplukan, kelayu.

    Sedangkan makanan yang disajikan di penangkaran untuk kategori nabati antara lain pisang dan pepaya. Sedangkan untuk hewani terdiri dari ulat hongkong, belalang, jangkrik, dan kroto basah (telur semut). Jenis pakan pendukung lainnya yang disajikan yaitu jenis pakan olahan seperti kroto kristal kroto voer 521, kroto fancy food. Penyajian pakan pisang 2 buah/ekor/hari, pepaya 2 iris/ekor/hari, ulat/kroto masing-masing 8 gram/ekor/hari, serangga 2-4 ekor/hari/ekor.

    I. Metoda
    Pasangan induk yang dipersiapkan untuk kepentingan perbiakan  terdiri dari satu ekor jantan dan satu ekor betina dengan usia masing-masing telah mencapai usia dewasa kelamin yaitu minimal 8 bulan.

    Setiap sangkar hanya berisi satu pasangan induk dimana jantan dan betina telah menunjukan harmonisasi jodohnya.

    J. Populasi
    Populasi saat ini di penangkaran adalah sebanyak 108 ekor,

    K. Pemeliharaan
    Tenaga yang betugas sebagai pemelihara burung berjumlah 2 orang dan rekruetmentnya dipentingkan berkaitan dengan tugas-tugas sebagai berikut :

    1. Menyajikan pakan dan air dua kali setiap harinya, yaitu pada pagi hari dan siang menjelang sore hari.
    2. Melaksanakan kegiatan kebersihan di dalam sangkar, dan lingkungan diluar sangkar.
    3. Merawat anakan burung saat usia piyik
    4. Penyajian vitamin
    5. Pemantauan terhadap perilaku, aktifitas biak, dan keadaan kesehatan burung.

    L. Perawatan kesehatan
    Perawatan kesehatan burung dilakukan setidaknya 1 sampai 2 setiap tahunnya yang dilakukan oleh Balai Penyidikan Penyakit Hewan di Denpasar (BPPH). Test medis dilakukan melalui contoh spesimen tinja atau bulu.

    PROGRAM KERJA
    Program kerja secara umum yaitu merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan dari keseluruhan konsep Program Pemulihan Populasi Liar Jalak Bali yang meliputi kegiatan :

    A. Pembiakan
    Pengkayaan individu melalui pembiakan secara penangkaran adalah merupakan aktifitas kegiatan prioritas terdepan dari seluruh mata rantai kegiatan yang dicanangkan, karena produktifitas anakan yang dihasilkannya secara keseluruhan diperuntukan guna mendukung pemulihan populasi liar di habitatnya. Distribusi anakan pada setiap tahunnya diatur untuk memenuhi tiga kepentingan, yaitu satu bagian dipersiapkan sebagai cikal bakal lepas liar pada tahun berjalan, satu bagian diperuntukan sebagai calon induk, dan satu bagian lagi dicalonkan untuk lepas liar pada tahun berikutnya setelah masing-masing mencapai usia dewasa kelamin.

    B. Peningkatan produktifitas biak
    Untuk memperoleh individu baru dari hasil pembiakan sesuai dengan target yang direncanakan, maka setiap periode tahunnya secara kuantitas dilakukan upaya-upaya antara lain melalui penciptaan pasangan induk baru baik dari anakan yang telah mencapai usia dewasa kelamin, maupun induk yang diperoleh secara transfer dari pihak-pihak lembaga pemerhati konservasi.

    C. Pendataan silsilah keturunan
    Untuk memperoleh kualitas keturunan yang lebih baik maka setiap individu yang dipasangkan untuk dijadikan induk dipastikan bahwa individu tersebut telah diketahui terlebih dahulu alur sejarah silsilahnya berdasarkan catatan stoot book.

    D. Pengelolaan induk
    Pada saat pasangan induk memasuki masa istirahat dan tidak melakukan produktivitas biaknya, maka diperlukan perlakuan-perlakuan agar induk tersebut tetap optimal melakukan aktifitas biaknya.dengan dilakukan monitoring secara terus menerus sampai pasangan tersebut menunjukan perilaku yang mengarah pada kecenderungan berbiak.

    E. Pemeliharaan dan pembesaran piyik
    Adalah kegiatan untuk meminimalisasi angka kematian piyik yaitu dengan dilakukan pembesaran secara manual dengan media brooder, apabila pembesaran piyik yang dilakukan sendiri oleh induknya selama masa pengasuhan didalam sarang biak, seringkali terjadi peristiwa kematian.

    F. Penyapihan anak
    Setiap anak yang telah memasuki usia 60 hari selanjutnya dilakukan penyapihan pada sangkar sapihan yang berkapasitas hingga 10 ekor. Masa sapihan tersebut terutama lebih diarahkan agar : bisa melakukan aktifitas sendiri seperti mengkonsumsi pakan, memudahkan untuk penyeleksian kelamin, memudahkan monitoring pasangan serasi pilihannya sendiri, penciptaan keserasian diantara mereka sebagai sub populasi buatan.

    G. Pembentukan sub populasi buatan
    Program ini menitik beratkan pada terciptanya koloni dimana setiap anggota pembentukannya bisa saling mengenal sebagai suatu populasi.

    H. Pemeriksaan kesehatan
    Kegiatan ini dilakukan agar seluruh individu yang akan dilepas liarkan betul-betul dalam kondisi tidak mengidap suatu penyakit, sehingga mewabahnya penyakit bawaan terhadap populasi liar lainnya yang lebih dulu berada di habitat dapat dihindari.

    I. Pelatihan pra liar
    Pelatihan ini diselengarakan terhadap semua anggota yang telah menjalani masa pengkolonian yang dicanangkan untuk program lepas liar, dan pelatihan dilaksanakan dihabitatnya dimana kelak lingkungan tersebut akan menjadi petualangan liarnya, rentang waktu pelatihan yaitu selama 30 hari.

    J. Monitoring pasca lepas liar
    Aktifitas lanjutan sesaat setelah dilaksanakan peliaran adalah dilakukannya kegiatan monitoring yang dilaksanakan oleh tenaga fungsional Pengendali Ekosistem Hutan yaitu sejak mulai diliarkan hingga periode peliaraan tahun berikutnya.


    image

    Testimonial

    "Saya bersama keluarga senang berkunjung ke Taman Nasional bali Barat" — Agus, Denpasar

    Kontak Kami

    Taman Nasional Bali Barat

    Jl. Raya Cekik - Gilimanuk - Jembrana 82253

    Ph. +62365 61060

    Fax. +62365 61479

    Website: www.tnbalibarat.org

    tnbb09@gmail.com

    Taman Nasional Bali Barat

    @balibarat

    Pengunjung

    Counter : 1

    Online : 1